R (wajah disamarkan) saat dijemput pihak keluarga untuk melanjutkan perawatan ke wilayah Wonogiri.
SOLO, solotrust.com— Kepedulian terhadap penyandang disabilitas mental kembali ditunjukkan oleh kolaborasi lintas komunitas di Soloraya. Yayasan Tangan Baik Solo Raya (TBSR) bersama sejumlah pegiat sosial mendampingi pemindahan R (22), seorang warga yang mengidap gangguan mental, dari Panti Jati Adulam Ministry Solo menuju Rumah Pelayanan Sosial (RPS) Esti Tomo Wonogiri pada Senin (5/10/2026) siang.
​Proses rujukan R menggunakan armada mobil ini turut dihadiri langsung oleh orang tuanya. Sejumlah pihak yang ikut memfasilitasi langkah ini antara lain Sekar Lawu Community, Fave Hotel Solo Baru, Pejuang Sosial Community, hingga Pemerintah Desa Kebak, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar.
​Pembina TBSR, Rus S. Sumanto, mengungkapkan, pemindahan R—yang telah menghuni Panti Jati Adulam sejak Agustus 2025—dilakukan atas permintaan keluarga, agar R bisa mendapatkan penanganan medis dan terapi yang lebih optimal.
​"Langkah ini sesuai keinginan keluarga agar R mendapat terapi yang lebih baik dan segera pulih. Selain itu, lokasinya juga lebih dekat dari rumah sehingga memudahkan pemantauan. Jika perkembangan di sana masih kurang, kami siap membantu rujukan lanjutan ke Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Arif Zainuddin," jelas Rus saat diwawancarai Espos.
​Rus menegaskan, aksi ini merupakan bagian dari fokus kepedulian TBSR terhadap kelompok rentan, masyarakat prasejahtera, hingga anak-anak. Selain mendampingi penderita disabilitas mental, pihaknya aktif menggalang aksi sosial seperti menebus ijazah siswa kurang mampu hingga menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Dalam kesempatan tersebut, TBSR juga menyerahkan bantuan paket sembako untuk operasional Panti Jati Adulam.
​Langkah kolaboratif ini disambut hangat oleh Pengelola Panti Jati Adulam Ministry Solo, Robert Nadeak. Menurutnya, saat ini panti yang ia kelola menampung 74 penghuni dari berbagai daerah dengan usia termuda 20 tahun, baik yang datang sendiri, diantar dinas sosial, maupun dirujuk oleh pemerintah desa bersama keluarga.
​"Kami sangat bersyukur dan mengapresiasi perhatian para relawan. Ini membuktikan bahwa orang dengan gangguan jiwa tidak dibiarkan begitu saja. Kepedulian dari komunitas, pemerintah desa, dan masyarakat luas memberikan harapan besar bagi proses pemulihan mereka agar nantinya bisa kembali diterima di tengah masyarakat," pungkas Robert. (nas)
