Wali Kota Solo, Respati Ardi berfoto bersama Dosen Program Studi D4 Transportasi, Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kusuma Refa Haratama. (Foto: Dok. Istimewa)

SOLO, solotrust.com - Wali Kota Solo Respati Ardi menggelar diskusi bersama akademisi untuk membahas penguatan dan optimalisasi layanan transportasi publik di wilayahnya. Diskusi berlangsung di Balai Kota Solo, Rabu (28/01/2025).

Akademisi yang hadir dalam pertemuan itu adalah Kusuma Refa Haratama, Dosen Program Studi D4 Transportasi, Fakultas Vokasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Pertemuan keduanya berawal dari interaksi di media sosial saat Respati Ardi tertarik pada pandangan Refa terkait perencanaan transportasi perkotaan yang dibagikan melalui Instagram.

Menindaklanjuti diskusi online tersebut, Respati Ardi mengundang Kusuma Refa Haratama ke Solo untuk membahas lebih jauh konsep pengelolaan transportasi sebagai bagian dari perencanaan kota. Menurut Respati Ardi, transportasi publik merupakan aset pemerintah daerah yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.

“Transportasi umum harus menjadi solusi yang memudahkan mobilitas warga. Pemerintah Kota Surakarta berkomitmen memastikan layanan transportasi bisa diakses dengan mudah dan terjangkau,” ujarnya.

Respati Ardi menegaskan pentingnya perencanaan transportasi terintegrasi dengan tata ruang, termasuk mendekatkan kawasan hunian dengan pusat aktivitas dan tempat kerja. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah peningkatan kemacetan, terutama di kawasan wisata.

Selain itu, pihaknya juga meminta perangkat daerah dan pemangku kepentingan terkait untuk menertibkan parkir ilegal selama ini menjadi salah satu penyebab kemacetan di sejumlah titik Kota Solo.

Sementara itu, Kusuma Refa Haratama menyampaikan apresiasi atas kesempatan berdiskusi langsung dengan wali kota Solo. Ia menilai keterlibatan akademisi dalam perumusan kebijakan transportasi sangat penting agar solusi yang dihasilkan berbasis kajian dan kebutuhan masyarakat.

Menurut Kusuma Refa Haratama, transportasi publik dapat menjadi instrumen efektif untuk menekan kemacetan apabila dikelola secara tepat dan terintegrasi dengan perencanaan wilayah.

“Salah satu kuncinya adalah mendekatkan aktivitas masyarakat dengan kawasan hunian. Dengan begitu, penggunaan transportasi publik bisa lebih optimal,” katanya.

Kusuma Refa Haratama berharap, penguatan sektor transportasi dan tata ruang dapat mendorong Solo menjadi kota yang semakin tertata dan berdaya saing. (Mutiara Agustina)