Ilustrasi (Foto: Pixabay/Geralt)
JAKARTA, solotrust.com - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani menyampaikan dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Indonesia saat ini tengah memasuki periode peningkatan curah hujan yang menandai peralihan menuju puncak musim hujan.
Berdasarkan analisis tiga bulan terakhir, curah hujan terus mengalami kenaikan signifikan, sebagian besar wilayah berada pada kategori menengah hingga tinggi. Teuku Faisal Fathani menjelaskan, fenomena La Nina lemah saat ini tengah berlangsung dan diprediksi bertahan hingga Maret 2026. Kendati demikian, dampaknya terhadap peningkatan curah hujan dinilai tak terlalu signifikan saat puncak musim hujan nanti.
“La Nina lemah akan bertahan hingga awal 2026, namun pada puncak musim hujan dampaknya terhadap penambahan curah hujan tidak terlalu signifikan. Meski begitu, curah hujan tinggi pada periode tersebut tetap perlu diwaspadai,” ujarnya, dilansir dari laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, bmkg.go.id, Rabu (05/11/2025).
Dalam kesempatan sama, Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan seluruh elemen pemerintah menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang meningkat.
“BMKG telah memperingatkan bahwa intensitas hujan di berbagai wilayah Indonesia akan meningkat signifikan dan berpotensi menimbulkan bencana banjir serta tanah longsor di beberapa daerah. Untuk itu, saya menekankan pentingnya langkah mitigasi dan kesiapan dari seluruh jajaran pemerintah, baik pusat maupun daerah,” kata Dody Hanggodo
“Ini bukan sekadar informasi, melainkan tanggung jawab kita bersama. Kita harus bekerja secara terkoordinasi dan tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi antarinstansi, antara pemerintah pusat, daerah, TNI, Polri, dan masyarakat sangat diperlukan agar penanganan di lapangan dapat dilakukan dengan cepat, tepat, dan efektif,” lanjutnya.
Dody Hanggodo juga menegaskan arahan presiden adalah agar pemerintah selalu hadir dan tanggap dalam menghadapi kondisi darurat.
“Sebagaimana arahan bapak presiden, pemerintah harus selalu hadir dan tanggap terhadap situasi darurat. Kita mungkin tidak dapat sepenuhnya mengendalikan alam, namun kita dapat memastikan bahwa infrastruktur yang sudah dibangun mampu bertahan dan berfungsi dengan baik dalam menghadapi tantangan alam tersebut,” tutupnya.
BMKG mencatat, curah hujan dengan kategori tinggi hingga sangat tinggi berpotensi terjadi di wilayah Indonesia bagian Selatan, meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, hingga Papua bagian Selatan.
Sementara pada Februari hingga April 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah dan mulai berangsur normal. Selama periode November-Desember 2025, sebagian besar wilayah Indonesia masih akan mengalami curah hujan atas normal, terutama di Sumatra bagian Utara, Kalimantan bagian Utara, Sulawesi bagian Utara, dan Maluku Utara.
Kombinasi faktor global dan regional seperti La Niña lemah dan Dipole Mode negatif (-1,61) menyebabkan atmosfer tetap labil dan mendukung pembentukan awan konvektif di sejumlah wilayah. Hal ini meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang, terutama di Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, NTB, dan Sulawesi Selatan.
BMKG juga mendeteksi keberadaan Siklon Tropis Kalmaegi di Samudra Hindia bagian Barat Daya Lampung serta beberapa sirkulasi siklonik lain yang turut memengaruhi dinamika cuaca nasional.
Dalam sepekan ke depan (3–9 November 2025), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di pesisir Barat Sumatra, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
