Nardi tengah mengerjakan pembuatan wayang kulit di rumahnya. (Foto: Dok. solotrust.com/jaka)
KLATEN, solotrust.com - Desa wisata Kampung Wayang terletak di Sidowarno wilayah Kecamatan Wonosari Kabupaten Klaten menyimpan banyak sejarah.
Sampai saat ini wayang kulit menjadi simbol budaya di mana pada zaman dahulu wayang merupakan bagian dari sepuluh warisan budaya Indonesia diakui dunia.
Nilai-nilai sejarah terkandung dalam bentuk dan pola wayang sedikit banyak menggambarkan budaya masyarakat sekitar.
Zaman sudah berkembang dan nilai budaya pun masih melekat kuat di masyarakat lokal. Keunikan budaya dan keramahan menjadikan daya tarik masyarakat luar untuk belajar, menikmati, bahkan menirunya.
Di Desa Sidowarno, nama Nardi dikenal banyak orang lantaran kiprahnya menggeluti warisan leluhur dalam pembuatan wayang kulit hingga dikenal publik mancanegara.
Saat ditemui solotrust.com di rumahnya, Nardi selaku Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Bima mengaku, banyaknya wisatawan berkunjung memantik masyarakat lokal, dalam hal ini warga Sidowarno mengemas budaya lokal menjadi daya tarik wisata.
“Konsep desa wisata Kampung Wayang di Sidowarno menjadi daya tarik masyarakat luas. Warga di sini mau tidak mau terus berkarya dalam pembuatan wayang,” katanya, saat ditemui wartawan beberapa hari lalu.
Desa Wisata Wayang masih memiliki nuansa asri pedesaan. Menurut Nardi, selama mendapat banyak apresiasi dan dicanangkan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA) sejak 2018 silam, hingga kini kampung wayang terus ramai dikunjungi banyak orang untuk melihat proses pembuatan wayang kulit.
“Kami merasa bersyukur karena dicanangkan Kampung Berseri Astra. Semenjak itu, kampung ini jadi terkenal dan sering dikunjungi para wisatawan. Biasanya mereka ingin melihat cara pembuatan wayang dan saya ajarin juga cara menatahnya,” kata Nardi.
Dalam menggeluti wayang kulit jatuh bangun sudah dialami Nardi. Bahkan, dirinya sempat berhenti tidak membuat wayang karena tidak memiliki modal untuk membeli bahan baku kulit kerbau dari daerah lain (luar Jawa).
“Saya keturunan dari orang yang tidak mampu. Orangtua saya perintis membuat wayang di kampung ini. Mau tidak mau saya harus meneruskan orangtua saya. Kalau soal bahan baku tidak ada itu sering karena mau beli tidak ada uangnya dan belinya juga jauh, jadi harus perlu modal banyak,” beber Nardi.
Terlepas dari itu, lambat laun warga Kampung Wayang mulai ada peningkatan tarap hidup lantaran mendapat dorongan dari Astra Group.
“Pihak Astra tidak hanya memberikan materi saja, namun warga di sini juga mendapat banyak ilmu. Dulu pernah ada sosialisasi di pendopo milik kampung ini, warga di sini semakin semangat,” ungkap Nardi.
Sunarto, saudara Nardi mengaku, pada mulanya sebagian warga di sini hanya bermata pencaharian sebagai petani tadah hujan karena menggeluti wayang kulit tidak cukup untuk kebutuhan sehari hari.
“Dulu sebagian besar petani. Ladang di sini kalau musim kemarau seperti ini tidak bisa ditanami, tanahnya kering. Menggeluti wayang saja juga tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari hari. Semenjak kampung ini sebagai kampung wisata, ceritanya sekarang berbeda,” katanya. (jaka)
