Mangkunegaran. (Dok. Net)
SOLO, solotrust.com- Mangkunegaran akan menyelenggarakan Dhaup Ageng G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura dan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian pada 3–7 November 2026.
Dhaup Ageng menandai babak baru bagi kedua mempelai dan pertemuan dua keluarga, yang dirayakan melalui tradisi Mangkunegaran yang terus hidup dan dimaknai hingga hari ini. Gusti Sura merupakan kakak dari Pengageng Mangkunegaran K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X.
Rangkaian Dhaup Ageng akan diselenggarakan melalui tata cara dan tradisi Mangkunegaran, dengan rangkaian kegiatan yang dipusatkan di lingkungan Pura Mangkunegaran. Prosesi pernikahan akan berlangsung pada 3–7 November 2026.
Resepsi akan diselenggarakan pada 6 dan 7 November 2026 di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran.
Sebagai ruang partisipasi publik yang menyertai Dhaup Ageng, Mangkunegaran juga menyiapkan pesta rakyat pada 6–8 November 2026 di kawasan Pamedan Pura Mangkunegaran.
Kegiatan tersebut memberi ruang bagi masyarakat untuk turut mangayubagya dan berbagi kebahagiaan bersama kedua mempelai dan keluarga.
“Dhaup Ageng pertama-tama merupakan peristiwa keluarga yang menandai babak baru bagi kedua mempelai. Melalui rangkaian tradisi dan kegiatan publik yang telah dipersiapkan, kami berharap masyarakat dapat turut mangayubagya, berbagi kebahagiaan, dan merasakan kedekatan yang telah lama terjalin antara Mangkunegaran dan Kota Solo,” ujar Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay.T. Ayu Rosetyastuti.
Salah satu agenda dalam pesta rakyat adalah pemutaran film ramah anak yang diselenggarakan bersama komunitas sinema. Sebanyak 200 anak dari yayasan yatim piatu akan diundang untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Informasi lengkap mengenai program, waktu, dan akses masyarakat akan disampaikan melalui kanal resmi Mangkunegaran. Dhaup Ageng juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat makna di balik tradisi Mangkunegaran.
Setiap tata cara, busana, musik, simbol, dan ruang yang digunakan tidak hanya memiliki fungsi seremonial, tetapi mengandung nilai dan tata laku yang terus dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui Dhaup Ageng 2026, Mangkunegaran menghadirkan tradisi sebagai warisan budaya yang hidup — dijalankan oleh keluarga, abdi dalem, seniman, perajin, dan berbagai pihak yang menjaga makna serta ketelitian di balik setiap rangkaian.
Berangkat dari peristiwa keluarga ini, rangkaian kegiatan publik yang terkurasi diharapkan dapat memberi ruang bagi berbagai elemen masyarakat Surakarta untuk ikut menyambut, memahami, dan merasakan kehangatan Dhaup Ageng.
