Asem Abdullah Ahmad Abdo, Wisudawan asal Yaman.

​SUKOHARJO, solotrust.com– Dalam sebuah upacara wisuda yang megah, nama Asem Abdullah Ahmad Abdo bergema. Wisudawan asal Yaman ini tidak hanya merayakan kelulusan S1, tetapi juga sebuah perjuangan luar biasa yang melintasi benua dan rintangan keamanan. Bagi Asem, perjalanan pendidikan fisioterapi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) adalah sebuah komitmen hidup untuk membangun kembali tanah airnya yang dilanda konflik.

Sejak 2022, Asem, penerima beasiswa International Priority Scholarship (IPS) UMS, tidak dapat kembali ke kota asalnya, Taiz. Situasi keamanan yang tidak menentu menjadikannya hidup jauh dari keluarga, menjadikannya 'pengasingan' demi ilmu. “Situasi keamanan di sana tidak menentu. Setiap kali saya mau balik, situasinya tidak enak. Empat tahun belum pernah balik,” ungkap Asem, mengenang kerinduan yang mendalam.

Asem tidak hanya datang untuk belajar, tetapi untuk beradaptasi. Di tengah perbedaan budaya, ia menemukan kehangatan keluarga kedua di UMS. UMS bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan komunitas yang mendukung dan memeluknya. Salah satu pengalaman berkesan adalah mengikuti KKN di Gawok, Kartasura, di mana ia berbaur dengan masyarakat lokal dan belajar bahasa Jawa. Ketika ditanya kemampuan bahasa Jawa-nya, Asem menjawab dengan senyum, “Setitik-setitik.”

Mengapa fisioterapi di UMS? Asem melihat perkembangan pesat program studi ini di UMS, terutama dalam praktik rehabilitasi dan pendampingan pasien. Pengalaman praktik di berbagai klinik dan rumah sakit di Solo memberikan bekal ilmu yang sangat berharga. “Pengalaman yang saya dapat sangat akan bermanfaat nanti pas saya balik ke Yaman sana,” tambahnya.

Perjuangan Asem tidak berakhir setelah wisuda S1. Ia kini telah terdaftar sebagai mahasiswa S2 Fisioterapi di UMS melalui skema beasiswa. Ia ingin terus memperdalam ilmunya, mengasah keterampilan dalam pelayanan rehabilitasi, akupunktur, dan TENS.

Cita-cita Asem tidak main-main. Ia ingin membawa ilmu yang diperolehnya kembali ke Yaman dan menjadi dosen di Universitas Teknologi Yaman. Tujuannya adalah untuk mentransfer ilmu fisioterapi dari UMS ke negaranya. “Insyaallah jadi dosen di sana biar ilmunya pindah. Jadi kita mau bawa UMS juga ke sana,” tegasnya. Kerja sama antara UMS dan Universitas Sains dan Teknologi Yaman (USTY) akan menjadi jembatan kuat untuk memperkuat hubungan akademik kedua perguruan tinggi.

Dalam upacara wisuda, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menekankan pentingnya mengamalkan ilmu. “Jangan berhenti belajar, jangan berhenti pada gelar. Teruslah belajar, jadilah pembelajar sepanjang hayat. Karena ilmu yang hanya disimpan akan menjadi pengetahuan, ilmu itu harus diamalkan supaya menjadi manfaat,” jelas Prof. Harun. Pesan ini semakin memperkuat tekad Asem untuk membawa dampak positif bagi negaranya.

​Asem Abdullah Ahmad Abdo adalah cerminan dari kegigihan mahasiswa internasional yang tidak hanya belajar, tetapi juga membangun visi untuk masa depan yang lebih baik. Kisahnya adalah inspirasi bagi kita semua untuk terus belajar dan mengamalkan ilmu demi kemanusiaan. (nas)