Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta merayakan dies natalis ke-62 dengan mengangkat tema Transformasi Seni, Menggerakkan Peradaban, Rabu (15/07/2026)

SOLO, solotrust.com - Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta merayakan dies natalis ke-62 dengan mengangkat tema 'Transformasi Seni, Menggerakkan Peradaban' Rabu (15/07/2026).
 
Tema ini lahir dari keyakinan bahwa seni menghasilkan gagasan, nilai, inovasi, dan cara pandang baru yang mampu menggerakkan perubahan sosial. Peradaban besar selalu dibangun oleh kebudayaan kuat. 
 
Di tengah revolusi digital, kecerdasan artifisial, ekonomi kreatif, dan mobilitas budaya global, perguruan tinggi seni dituntut tidak cukup hanya menjadi ruang konservasi tradisi. Perguruan tinggi seni harus menjadi laboratorium masa depan. 
 
Sebagaimana arah strategis ISI Surakarta dalam Renstra 2025–2029, transformasi tersebut diwujudkan melalui penguatan inovasi, hilirisasi karya seni, kolaborasi lintas sektor, dan dampak sosial sebagai fondasi pengembangan institusi. 
 
Pada 2026 ini, ISI Surakarta melayani 4.602 mahasiswa aktif, didukung 274 dosen dan 178 tenaga kependidikan. Di tengah dinamika pendidikan tinggi nasional, perguruan tinggi ini terus memperkuat mutu akademik melalui implementasi Kurikulum Outcome-Based Education (OBE), penguatan pembelajaran berbasis Artistic Research, digitalisasi layanan akademik, serta berbagai kebijakan Kampus Berdampak yang menempatkan mahasiswa sebagai aktor utama perubahan.  
 
Program Studi (Prodi) terakreditasi unggul sejumlah tiga prodi, terakreditasi baik sekali sejumlah sepuluh prodi, terakreditasi baik sejumlah empat prodi, program studi baru dan terakreditasi sementara sejumlah enam prodi. 
 
Tahun ini, ISI Surakarta menginisiasi lahirnya Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Program Sarjana Etnomusikologi di Banyuwangi. Pihak kampus juga mendorong empat prodi, yakni Prodi Etnomusikologi, Seni Karawitan, Desain Komunikasi Visual, dan Desain Mode Batik untuk akreditasi Internasional. 
 
Salah satu capaian patut disyukuri adalah keberhasilan meluluskan 295 wisudawan pada periode April 2026 dengan capaian akademik sangat baik. Rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) Pascasarjana mencapai 3,87, Fakultas Seni Rupa dan Desain 3,67, serta Fakultas Seni Pertunjukan 3,55. 
 
Capaian tersebut menunjukkan mutu pendidikan tetap menjadi prioritas utama institusi. Namun demikian, ukuran keberhasilan perguruan tinggi hari ini tidak lagi berhenti pada angka kelulusan. Keberhasilan perguruan tinggi diukur dari sejauh mana lulusannya mampu memberi manfaat kepada masyarakat.
 
Melalui Tracer Study lulusan 2024-2025, pihak kampus memperoleh gambaran menggembirakan. Lulusan ISI Surakarta kini hadir dalam beragam profesi. Mereka menjadi desainer interior, desainer komunikasi visual, fotografer, videografer, editor film, ilustrator, penari profesional, musisi, dalang, pengelola sanggar, art director, pelaku industri kreatif, guru, dosen, kepala sekolah, hingga wirausahawan berbasis seni. 
 
Bahkan, tak sedikit dari para alumni berkiprah di sektor nonseni sebagai supervisor perusahaan, manajer proyek, tenaga hubungan masyarakat, administrator perusahaan, pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), tim kreatif desa wisata, maupun berbagai profesi strategis lainnya. Data ini menunjukkan pendidikan seni menghasilkan lulusan adaptif, kreatif, kolaboratif, serta mampu menjawab kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat. 
 
Transformasi juga dilakukan melalui penguatan tata kelola kelembagaan. Tahun ini menjadi momentum penting karena ISI Surakarta semakin memantapkan diri sebagai Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (BLU). 
 
Penguatan tersebut diwujudkan melalui pembentukan Dewan Pengawas BLU, berdirinya Pusat Bisnis dan Optimalisasi Aset (BOA). Pada tahun ini ISI Surakarta melakukan lompatan besar melalui pembangunan Platform Terintegrasi Layanan BLU "myISI". 
 
Platform yang dibangun ini merupakan fondasi baru tata kelola perguruan tinggi, mengintegrasikan seluruh proses bisnis institusi dalam satu ekosistem layanan digital, baik di bidang akademik, kemahasiswaan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, keuangan, kepegawaian, kinerja sumber daya manusia (SDM), kerja sama, persuratan maupun Audit Mutu Terintegrasi. 
 
Termasuk aplikasi yang diluncurkan tahun ini oleh Satuan Pengawas Internal untuk layanan aduan dan whistle blowing juga telah dilakukan untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan ISI Surakarta. 
 
Pada 2026 ISI Surakarta telah mengimplementasikan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP), dengan berpayung pada Peraturan Rektor Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan SAKIP ISI Surakarta. Berdasarkan pedoman tersebut, beberapa hal telah dilaksanakan meliputi penyusunan rencana strategis, perjanjian kinerja, pengukuran kinerja, pengelolaan data kinerja, penyusunan indikator kinerja, pelaporan kinerja, reviu laporan kinerja, dan evaluasi kinerja. 
 
Pada 2025, implementasi SAKIP di ISI Surakarta berhasil mendapatkan predikat A yang artinya memuaskan, memimpin perubahan, berkinerja tinggi, dan sangat akuntabel.
 
Status BLU bukan sekadar perubahan administratif. Ini merupakan instrumen strategis agar perguruan tinggi seni memiliki fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan inovasi, membangun jejaring kemitraan, mengoptimalkan aset, dan meningkatkan kualitas pelayanan publik. 
 
Dalam bidang penelitian, ISI Surakarta terus memperkuat ekosistem Artistic Research. Selama 2025 hingga Juni 2026, dosen ISI Surakarta menghasilkan ratusan artikel ilmiah, publikasi pada jurnal bereputasi internasional, puluhan buku ber-ISBN, serta memperoleh dukungan pendanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat lebih dari Rp13,1 miliar. Seluruh capaian tersebut menjadi fondasi penting dalam mewujudkan cita-cita ISI Surakarta sebagai World Class Artistic Research University. 
 
Dalam bidang kemahasiswaan, mahasiswa ISI Surakarta juga menunjukkan prestasi membanggakan. Selama periode 2025-2026, mahasiswa berhasil meraih 31 prestasi, terdiri atas 20 prestasi tingkat nasional, sembilan prestasi regional, dan dua prestasi internasional. 
 
Salah satu capaian membanggakan adalah raihan Gold Medal dan Best Idea Award pada National Excellence Competition 2026. Termasuk salah satu mahasiswa Program Studi Kriya FSRD ISI Surakarta berhasil meraih peringkat terbaik dalam seleksi ASEAN International Mobility for Students (AIMS) 2026. 
 
Prestasi-prestasi tersebut menunjukkan mahasiswa ISI Surakarta tidak hanya unggul dalam karya seni, namun juga memiliki daya saing dalam inovasi, penelitian, dan kewirausahaan. 
 
Di sisi lain, semangat ISI Berdampak terus diwujudkan melalui keterlibatan mahasiswa dalam berbagai program magang, proyek independen, riset, serta pengabdian kepada masyarakat. Salah satu contoh nyata adalah keterlibatan sivitas akademika ISI Surakarta dalam Festival Fulan Fehan IV 2026 di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, melibatkan ribuan penari Likurai sebagai bagian dari penguatan diplomasi budaya dan pemberdayaan masyarakat. 
 
Perjalanan transformasi juga ditopang semakin luasnya jejaring kemitraan. Hingga pertengahan 2026, ISI Surakarta telah menjalin 405 kerja sama dengan berbagai lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dunia industri, komunitas seni, maupun mitra internasional. 
 
Kolaborasi tersebut menjadi ruang belajar bersama, memperluas mobilitas dosen dan mahasiswa, serta memperkuat posisi ISI Surakarta dalam ekosistem seni dan budaya di tingkat nasional maupun global. 
 
Pada aspek pembangunan institusi, ISI Surakarta terus berupaya meningkatkan kualitas sarana dan prasarana. Di antaranya melalui rencana pembangunan Gedung Multi Vidya didukung pendanaan SBSN, revitalisasi Gedung Kepatihan menjadi museum dan galeri karya mahasiswa, pengembangan ruang-ruang kreatif, serta penguatan sistem digital yang mendukung tata kelola perguruan tinggi berbasis data dan pelayanan prima. 
 
Bagi ISI Surakarta, semangat tersebut diwujudkan melalui pengembangan Artistic Research University, yakni perguruan tinggi seni yang menjadikan proses kreasi artistik sebagai sumber lahirnya pengetahuan, inovasi, sekaligus solusi bagi kehidupan. Seni tidak hanya menghasilkan karya, namun juga menghadirkan nilai, memperkuat kebudayaan, menggerakkan ekonomi kreatif, dan menghadirkan dampak sosial nyata.
 
Teknologi akan terus berkembang. ISI Surakarta meyakini kreativitas, kepekaan estetik, nilai-nilai budaya, dan kemanusiaan tetap menjadi kekuatan yang tak dapat digantikan mesin. Karena itu, visi kampus ini adalah mewujudkan perguruan tinggi seni yang mampu memadukan kemajuan teknologi dengan kearifan budaya Nusantara, sehingga melahirkan insan seni adaptif, inovatif, berintegritas, dan tetap berakar pada jati diri bangsa.
 
 
Pada acara Sidang Senat Terbuka dalam rangka dies natalis ke-62 lSI Surakarta 2026 turut dilakukan pengukuhan guru besar Prof. Dr. Sunardi, S.Sn., M.Sn. Dalam kesempatan itu, Sunardi menyampaikan pidato ilmiah berjudul 'Menjaga Jiwa Wayang Melintas Nafas Zaman: Estetika Nuksma-Mungguh dalam Arus Transformasi Pertunjukan Wayang Kulit'.
 
Sunardi mengatakan, wayang kulit merupakan seni budaya Indonesia asli yang diakui sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO. Hal ini membuktikan statusnya sebagai medium seni yang memiliki nilai historis, filosofis, dan estetis tinggi. 
 
"Kesenian wayang telah melampaui lintas zaman yang merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat. Wayang bukanlah artefak seni budaya statis, melainkan seni pertunjukan yang terus beradaptasi mengikuti dinamika zamannya. Inti dari adaptasi terletak pada perubahan estetika pertunjukan wayang untuk menjaga relevansinya bagi penonton masa kini," paparnya. 
 
Lebih lanjut, Sunardi mengutarakan, fenomena perubahan estetika didasarkan pada aspek ritual dan pakem ketat hingga estetika virtual yang longgar dan berbasis teknologi, menunjukkan adanya keberlanjutan menarik untuk dikaji. Dinamika pertunjukan wayang kulit dapat dicermati berdasarkan konsep nuksma-mungguh sebagai orientasi estetikanya.
 
"Artinya, konsep estetika nuksma-mungguh menjadi prinsip dasar dari penyajian pertunjukan wayang kulit bertransformasi seiringi perputaran zaman," jelasnya.