Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D., pakar Ilmu Keperawatan Jiwa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
SUKOHARJO, solotrust.com– Menghadapi gempuran tekanan hidup modern, kesehatan mental bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar. Menjawab tantangan ini, Prof. Arum Pratiwi, S.Kp., M.Kes., Ph.D., pakar Ilmu Keperawatan Jiwa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menawarkan pendekatan inovatif: Revitalisasi Energi Otak.
Gagasan ini disampaikan dalam Jumpa Pers Pengukuhan Guru Besar ke-72 UMS di Sukoharjo, Senin (27/4). Prof. Arum dijadwalkan akan dikukuhkan secara resmi pada Rabu (29/4) mendatang.
Banyak orang mengira mengatasi stres cukup dengan tidur atau berlibur (recharge). Namun, Prof. Arum meluruskan bahwa revitalisasi adalah proses yang jauh lebih dalam.
"Ini bukan sekadar mengisi ulang energi, melainkan memperbaiki dan meningkatkan kembali fungsi otak yang sempat menurun akibat tekanan," jelasnya. Otak manusia bekerja menggunakan energi dari metabolisme glukosa dan oksigen. Jika energi ini terganggu, dampaknya langsung terasa pada cara kita berpikir, merasa, dan berperilaku.
Prof. Arum menekankan bahwa kesehatan mental tidaklah statis. Seseorang berada dalam sebuah rentang yang dinamis.
"Setiap orang bisa berpindah dari satu titik ke titik lain dalam spektrum ini, tergantung pada tingkat stres dan ketangguhan adaptasinya," tambah Guru Besar FIK UMS tersebut.
Strategi kunci yang ditawarkan adalah terapi kognitif. Tujuannya adalah mengubah pola pikir negatif menjadi positif melalui stimulasi berulang. Secara biologis, proses ini memperkuat koneksi antar neuron sehingga otak lebih tangguh menghadapi pemicu stres.
Menariknya, Prof. Arum memadukan sisi ilmiah dengan pendekatan spiritual Islam. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 216 tentang pentingnya berprasangka baik (positive thinking) terhadap setiap ketetapan Tuhan.
"Kalbu yang baik akan menghasilkan perilaku yang baik. Maka revitalisasi energi otak harus selaras dengan kebersihan hati dan kekuatan spiritual," tegasnya. (nas)
