Masjid Darussalam Solo kembali membagikan bubur samin khas Banjar, Kalimantan Selatan secara gratis untuk masyarakat. (Foto: Dok. solotrust.com/Alya Nur Azizah)
SOLO, solotrust.com – Tradisi pembagian bubur samin di Masjid Darussalam, Kelurahan Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo kembali digelar selama Ramadan 2026. Kegiatan yang telah berlangsung puluhan tahun ini menjadi salah satu tradisi khas di Kota Solo, bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan.
Sejarah Pembagian Bubur Samin
Wakil Ketua Takmir Masjid Darussalam, sekaligus Ketua Panitia Ramadan 2026, Ma’yasin, menceritakan tradisi ini bermula dari para perantau asal Kalimantan Selatan yang tinggal di Solo. Para orang tua mereka dahulu merantau, ada yang berhasil dan ada pula yang tidak.
Bagi yang telah berhasil, mereka meminta istrinya memasak makanan khas Kalimantan untuk kemudian dibawa ke masjid dan dinikmati bersama warga sekitar saat berbuka puasa.
“Seiring waktu ada yang memasak bubur, ternyata rasanya enak dan setelah makan badan terasa nyaman. Akhirnya diputuskan untuk membuat bubur samin ini secara rutin,” kisahnya.
Para perantau yang telah sukses kemudian sepakat untuk iuran demi keberlangsungan tradisi tersebut. Dari tahun ke tahun jumlahnya terus bertambah. Bahkan, pada suatu waktu, sisa bubur yang dibawa pulang warga dibagikan ke tetangga dan mendapat respons positif.
Porsi Bubur Samin
Pada 1985–1987, bubur yang dimasak masih sekira 10 hingga 15 kilogram per hari. Kini jumlahnya telah meningkat drastis menjadi 45 hingga 50 kilogram per hari, setara dengan 1.100 hingga 1.200 porsi.
Adapun dari jumlah itu, sebanyak 150 porsi dibagikan untuk jemaah yang berbuka puasa di masjid, sementara sisanya dapat dibawa pulang masyarakat. Antusiasme warga setiap sore terlihat dari antrean panjang di halaman masjid.
Tak hanya warga Solo, sejumlah pengunjung dari luar daerah juga datang khusus untuk menyicipi bubur samin. Salah satu warga asal Karanganyar, Putri (21), mengaku baru kali pertama mencoba bubur samin di Masjid Darussalam.
“Saya penasaran karena sering dengar cerita dari teman. Ternyata rasanya gurih dan beda. Pantas banyak yang antre,” kata Putri.

Menariknya, pembagian bubur samin ini terbuka untuk semua kalangan.
“Ini bukan hanya untuk kaum Muslim saja. Kaum non-Muslim yang ingin mengambil juga silakan,” jelas Ma’yasin.
Ia menegaskan, pembagian bubur samin bukan berasal dari dana takmir masjid, melainkan sedekah dan iuran warga Kalimantan Selatan, para saudagar yang telah berhasil, serta warga kampung sekitar. Mereka meyakini sedekah saat Ramadan memiliki pahala lebih besar. Selain itu, selama tiga tahun terakhir juga ada bantuan beras dari donatur di Singapura serta pemerintah kota.
Proses Pembuatan dan Keistimewaan Bubur Samin
Proses pembuatan bubur samin sendiri memakan waktu tiga hingga empat jam. Memasak dimulai selepas zuhur dengan merebus air, kemudian memasukkan beras, disusul sayuran. Biasanya menjelang ashar bubur sudah matang. Dalam sehari digunakan dua tungku besar untuk memasak.
Keistimewaan bubur samin terletak pada penggunaan minyak samin, yakni minyak berasal dari olahan lemak kambing. Minyak ini dipercaya memberikan rasa khas, sekaligus membuat tubuh terasa hangat setelah menyantapnya.
Masjid Darussalam sendiri berdiri di atas tanah wakaf milik seorang pegawai keraton bernama Jayeng. Awalnya bangunan masjid masih kecil, kemudian direnovasi pada 1980-an hingga menjadi lebih representatif seperti saat ini.
Tradisi bubur samin ini dinilai sangat bermanfaat bagi warga sekitar. Selain membantu masyarakat mendapatkan hidangan berbuka puasa secara gratis, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, serta menjadi simbol kepedulian sosial lintas kalangan di lingkungan sekitar masjid.
Menurut Ma’yasin, tradisi bubur samin yang dibagikan secara massal seperti ini hanya ada di Solo. Kini, keberadaannya telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda dan telah resmi ditandatangani.
“Harapannya tradisi ini bisa terus berjalan, menjadi ladang sedekah, sekaligus mempererat kebersamaan warga,” pungkasnya.
*) Reporter: Rusida Kurnia Saputri/Diswa Aulia Putri
