Suasana di Panti Adulam Ministry.
SUKOHARJO, solotrust.com— Sebuah dedikasi kemanusiaan luar biasa lahir dari sudut Kabupaten Sukoharjo. Seorang pria yang dulunya bekerja sebagai pemulung kini mengabdikan hidupnya untuk merawat puluhan pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) secara gratis, melampaui perhitungan bisnis maupun logika finansial.
​Kisah ini bermula sekitar tahun 2006. Saat itu, ia sehari-hari bekerja mengantar-jemput sang istri yang mengajar. Guna mengisi waktu luang di rumah dan menghindari rasa jenuh, ia memutuskan untuk mencari penghasilan tambahan dengan mengumpulkan barang bekas (merongsok) menggunakan motor beronjong.
​"Daripada jenuh di rumah, saya kerja merongsok pakai beronjong. Minta izin ke bengkel-bengkel untuk ambil botol oli bekas buat dijual. Awalnya memang ada rasa malu," ujarnya saat menceritakan awal perjalanan hidupnya.
​Berawal dari Belakang Markas Brimob hingga Pindah ke Mulur
​Aksi kepedulian sosialnya terhadap penderita gangguan jiwa pertama kali dimulai di wilayah Grogol, Sukoharjo, tepatnya di kawasan Telukan dekat belakang markas Brimob. Seiring bertambahnya warga yang membutuhkan tempat penampungan dan perawatan, lokasi tersebut kini berpindah ke wilayah Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo.
​Di atas lahan seluas lebih dari satu hektare yang berjarak sekitar 40 menit dari pusat kota, ia kini menampung dan merawat puluhan pasien. Lokasi penampungan yang berada di area pedesaan ini menjadi rumah berteduh bagi warga yang membutuhkan penanganan khusus.
​
Rawat Puluhan Pasien Tanpa Bebankan Biaya
​Saat ini, jumlah pasien yang ditampung mencapai 70 hingga 80 orang. Secara hitungan operasional, biaya perawatan, konsumsi, dan pengelolaan tempat untuk puluhan pasien tentu tidak sedikit. Menariknya, mayoritas dari mereka tidak dikenakan biaya sama sekali.
​"Kalau dihitung secara logika bisnis, jelas tidak masuk akal. Pasien ada sekitar 70 sampai 80 orang, dan mayoritas dari mereka sebenarnya tidak bayar," ungkapnya.
​Meski tanpa tarif pasti dan mengandalkan pengelolaan mandiri, operasional panti merawat para pasien tetap dapat berjalan. Kebutuhan harian tempat perawatan tersebut senantiasa terpenuhi berkat dukungan dari berbagai komunitas, donatur, serta kelompok masyarakat peduli yang bergantian menyalurkan bantuan. (nas)
