Ilustrasi (Foto: Pixabay/tungnguyen0905)
Solotrust.com - Microsoft menyebut 49 persen karyawan merasa khawatir pekerjaannya bakal tergantikan artificial intelligence (AI) nantinya.
Dalam laporan tren kerja tahunan Microsoft, ada tiga wawasan utama ditekankan kepada para pemimpin bisnis untuk dipahami. Laporan itu menyoroti dampak AI terhadap produktivitas dan pandangan pekerja migran di dunia.
Laporan menunjukkan banyak pekerja merasa cemas terhadap dampak AI pada pekerjaan mereka. Sebanyak 49 persen dari mereka mengungkapkan rasa kekhawatirannya.
Namun, temuan itu juga memberikan penekanan pada kekuatan transformasional AI dan potensinya dalam mengurangi utang digital yang ada.
Dikutip dari laman Gizmochina, sebanyak 64 persen karyawan menghadapi kesulitan dalam mengalokasikan waktu dan energi untuk menyelesaikan tugas pekerjaan mereka.
Sementara itu, utang digital merujuk pada jumlah data, email, rapat, dan pemberitahuan yang tidak terkelola efektif oleh manusia. Kelebihan digital ini tidak hanya berdampak negatif pada produktivitas individu, namun juga menghambat inovasi dan pemikiran strategis.
Hasil survei menunjukkan 64 persen responden mengalami kesulitan dalam menemukan waktu dan energi untuk menyelesaikan tugas mereka yang mengakibatkan penurunan kreativitas dan produktivitas bisnis secara keseluruhan.
Tingkat gangguan dalam lingkungan kerja semakin meningkat, di mana 68 persen individu mengalami kesulitan dalam menjaga fokus tanpa gangguan. Keharusan untuk terus berkomunikasi, mencari informasi, dan menghadiri rapat telah menyebabkan hilangnya peluang dan penurunan produktivitas.
Rata-rata karyawan menghabiskan 57 persen waktu mereka untuk melakukan rapat, mengecek email, percakapan, dan hanya meninggalkan 43 persen waktu untuk pekerjaan kreatif yang sebenarnya.
Penggunaan kecerdasan buatan (AI) bisa menjadi solusi untuk tantangan produktivitas ini dengan menghadirkan alur kerja efisien dan menghemat energi. Dengan otomatisasi tugas rutin dan pengelolaan informasi lebih terstruktur, AI dapat membebaskan waktu berharga bagi karyawan untuk fokus pada inovasi dan pemikiran strategis.
Selain itu, alat yang didukung AI dapat meningkatkan efisiensi rapat dan memberikan wawasan serta data berharga untuk pengambilan keputusan lebih baik.
Sebagaimana diketahui, Microsoft telah melakukan revitalisasi karyawannya pada beberapa bulan silam.
Menariknya, hasil survei menunjukkan karyawan lebih tertarik pada penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mengurangi beban kerja mereka daripada merasa takut kehilangan pekerjaan.
Mereka melihat AI sebagai alat yang dapat meningkatkan produktivitas dan mengurangi kelelahan, bukan sebagai ancaman. Bahkan, buruh migran secara khusus menyambut penggunaan AI dalam berbagai aspek pekerjaan mereka, termasuk tugas administratif, analitis, dan bahkan kreatif.
Pemimpin bisnis memahami potensi AI untuk memberdayakan tenaga kerja mereka, bukan untuk menggantikannya. Mereka mengutamakan penerapan AI untuk meningkatkan produktivitas, meningkatkan tunjangan bagi karyawan, menghilangkan aktivitas bernilai rendah, dan mempercepat proses kerja.
AI dipandang sebagai alat berharga yang dapat meningkatkan kemampuan manusia, membebaskan karyawan dari tugas-tugas rutin, dan memungkinkan mereka untuk fokus pada aspek pekerjaan lebih bermakna dan kreatif.
Dalam era semakin dipengaruhi AI, para pemimpin bisnis perlu mengadopsi teknologi ini dengan cepat dan bertanggung jawab. Dengan memanfaatkan kemampuan AI, organisasi dapat memacu kreativitas, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan nilai tambah.
Laporan Microsoft berfungsi sebagai panduan bagi para pemimpin dalam mengarungi dunia AI dan mengoptimalkan potensinya untuk membentuk masa depan kerja positif.
