Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui ajang Global Innovation and Future Technology Summit (GIFTS) 2026 memperkuat upaya hilirisasi riset dan inovasi melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, investor, pemerintah, dan berbagai mitra strategis
YOGYAKARTA, solotrust.com - Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui ajang Global Innovation and Future Technology Summit (GIFTS) 2026 memperkuat upaya hilirisasi riset dan inovasi melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, investor, pemerintah, dan berbagai mitra strategis. Gelaran berlangsung pada 21 hingga 22 Oktober 2026 ini menghasilkan sejumlah capaian, termasuk 27 inovasi yang berhasil mendapatkan mitra pengembangan.
Mengusung tema 'CULTIVATION: Culture-Innovation-Business Acceleration', GIFTS 2026 tak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan dan gagasan, namun juga dirancang untuk mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan industri, peluang bisnis, serta akses investasi dan pengguna. Kegiatan ini diselenggarakan UGM Science Techno Park melalui program PRIME STeP, bekerja sama dengan Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, KADIN DIY, Meet The Investor, dan ICONIC, serta didukung berbagai mitra dalam ekosistem inovasi.
Sepanjang rangkaian pre-event dan acara utama, GIFTS 2026 menghadirkan sekitar 70 kegiatan yang berlangsung secara paralel. Agenda tersebut mencakup Business Matchmaking, Investor Speed Dating, Pasar Inovasi, Annual Meeting FORMIND, Business Talkshow, Collaboration Class, Startup Grooming, Research to Business Grooming, forum pengelolaan kekayaan intelektual dan transfer teknologi, Sarasehan Badan Usaha Milik Universitas, Doctoral Research Forum, berbagai Focus Group Discussion, Workshop CPD, hingga Sharing Senja.
Hilirisasi Riset harus Menjawab Kebutuhan Nyata
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan Adziman dalam sambutannya secara online pada pembukaan GIFTS 2026 menyoroti besarnya potensi talenta, pengetahuan, dan inovasi dimiliki Indonesia. Namun, menurutnya, potensi tersebut perlu diikuti kemampuan untuk mengembangkan dan menerapkan hasil penelitian agar memberikan manfaat nyata bagi industri, masyarakat, serta pembangunan nasional. Tantangan Indonesia bukan hanya meningkatkan jumlah penelitian, melainkan memastikan hasil riset dapat dikembangkan, digunakan, dan diperluas penerapannya untuk menjawab berbagai persoalan.
“Hubungan antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah tidak cukup berhenti pada pertemuan atau kesepakatan. Kita membutuhkan kerja bersama sejak persoalan dirumuskan, teknologi diuji, hingga solusi dapat diterapkan secara berkelanjutan,” ujar Fauzan Adziman .
Pandangan tersebut menjadi salah satu landasan penyelenggaraan GIFTS 2026. Melalui berbagai forum penjajakan bisnis dan kolaborasi, para inovator dipertemukan dengan pelaku industri, investor, off-taker, pemerintah, serta mitra potensial untuk membuka peluang pengembangan hasil riset.
Sebanyak 204 Startup dan 177 Inovasi Mengikuti Kurasi
Salah satu capaian GIFTS 2026 terlihat dari pelaksanaan Business Matchmaking dan Investor Speed Dating. Sebanyak 204 startup mendaftar untuk mengikuti rangkaian speed dating. Para peserta berasal dari sejumlah daerah, antara lain Yogyakarta, Bali, Surabaya, Bandung, dan Jakarta. Adapun dari jumlah itu, 76 startup berhasil lolos kurasi untuk mengikuti proses penjajakan kerja sama dengan investor dan mitra potensial.
Sementara itu, dalam ekosistem PRIME STeP, sebanyak 177 riset dan inovasi masuk dalam proses kurasi yang dilakukan KADIN DIY. Sebanyak sertus inovasi di antaranya terpilih untuk melanjutkan ke tahap business matchmaking.
Dari proses tersebut, 27 inovasi berhasil memperoleh mitra. Capaian ini menunjukkan upaya membawa hasil penelitian melampaui tahap pameran dan pertukaran gagasan menuju kemitraan yang berpotensi mendukung pengembangan lebih lanjut.
Rektor UGM berharap rangkaian kegiatan ini dapat menghasilkan tindak lanjut konkret, mulai dari terjawabnya kebutuhan industri melalui hasil riset hingga terbentuknya kolaborasi dengan sasaran dan ukuran keberhasilan yang jelas.
Lebih dari 50 Dokumen Kerja Sama dan LoI Ditandatangani
Selain mempertemukan inovator dengan calon mitra, GIFTS 2026 juga menjadi ruang untuk memperkuat komitmen kolaborasi melalui penandatanganan dokumen kerja sama. Pada acara pembukaan, sebanyak tujuh naskah kerja sama ditandatangani.
Selanjutnya, dalam berbagai agenda GIFTS 2026, lebih dari 50 dokumen kerja sama dan Letter of Intent (LoI) turut ditandatangani secara seremonial. Dokumen itu meliputi sejumlah bentuk kesepakatan, di antaranya nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU), Perjanjian Kerja Sama (PKS), Non-Disclosure Agreement (NDA), serta LoI.
Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama menyampaikan penandatanganan dokumen merupakan langkah awal untuk membangun kolaborasi lebih nyata. Kesepakatan yang terjalin diharapkan dapat ditindaklanjuti melalui pengembangan produk, investasi, lisensi dan transfer teknologi, pengembangan bersama industri, kegiatan produksi, hingga pemanfaatan inovasi oleh pengguna. Dengan demikian, keberhasilan kerja sama tak berhenti pada dokumen formal, namun berlanjut menjadi kegiatan yang menghasilkan manfaat dan nilai tambah.

PRIME STeP Perkuat Jembatan antara Kampus dan Industri
Pelaksanaan GIFTS 2026 juga menegaskan pentingnya peran Science Techno Park (STP) sebagai penghubung antara perguruan tinggi dan dunia usaha. Melalui program Promoting Research and Innovation through Modern and Efficient Science and Technology Parks (PRIME STeP), UGM berupaya membangun jalur lebih kuat bagi hasil penelitian untuk memasuki tahap pengembangan dan pemanfaatan.
Kolaborasi dengan KADIN, Meet The Investor (MTI), serta Infrastructure and Construction Innovation Conference and Workshop (ICONIC) memperluas jejaring yang mendukung proses tersebut. Agenda Pasar Inovasi melibatkan lintas STP juga memperlihatkan hilirisasi membutuhkan kerja sama antarlembaga.
Perguruan tinggi tak dapat berjalan sendiri, namun perlu terhubung dengan industri, investor, pemerintah, dan mitra strategis lainnya. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan memperbesar peluang agar hasil riset dapat dikembangkan menjadi produk atau solusi yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan masyarakat.
Kemandirian Teknologi harus Memberi Dampak bagi Masyarakat
Dalam pembukaan GIFTS 2026, Fauzan Adziman juga menekankan kemandirian teknologi bukan berarti Indonesia menutup diri dari perkembangan dunia. Kemandirian teknologi justru mencerminkan kemampuan nasional untuk memahami, menentukan pilihan, mengadaptasi, dan mengembangkan teknologi strategis sesuai kepentingan bangsa. Kerja sama global tetap diperlukan, namun harus memperkuat kapasitas nasional, bukan memperpanjang kebergantungan.
Karena itu, keberhasilan inovasi tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing. Manfaat yang diterima masyarakat, peningkatan kemampuan nasional, serta pengelolaan dampak sosial dan lingkungan juga perlu menjadi perhatian.
Sejalan dengan prinsip tersebut, sejumlah agenda GIFTS 2026 mengangkat isu strategis, mulai dari pangan, energi, air, lingkungan, kebencanaan, dan sampah hingga industri benih serta ekosistem kakao. Tema CULTIVATION dengan demikian tak hanya menekankan percepatan bisnis, namun juga pentingnya menumbuhkan inovasi yang berakar pada budaya, kebutuhan lokal, etika, dan tanggung jawab terhadap masyarakat maupun lingkungan.
Dari Riset Menuju Inovasi, Bisnis, dan Dampak Nyata
GIFTS 2026 memperlihatkan hilirisasi riset membutuhkan ekosistem yang saling terhubung. Perguruan tinggi berperan menghasilkan pengetahuan dan inovasi, industri membawa kebutuhan serta kapasitas produksi, investor membuka akses pembiayaan, sementara pemerintah mendukung kebijakan dan penguatan ekosistem. Di lain sisi, masyarakat menjadi pengguna, sekaligus pihak yang diharapkan menerima manfaat dari inovasi tersebut.
Keberhasilan hilirisasi karena itu tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah penelitian yang dihasilkan. Hal tak kalah penting adalah sejauh mana penelitian dapat berkembang menjadi inovasi, inovasi menjadi produk dan bisnis, serta produk dan bisnis memberikan dampak positif bagi masyarakat. Semangat tersebut menjadi pesan utama yang dibawa GIFTS 2026: mendorong perjalanan dari research to innovation, dari innovation to business, hingga business to impact.
“GIFTS 2026 bukan tentang menutup sebuah acara, tetapi tentang membuka lebih banyak pintu bagi inovasi Indonesia untuk masuk ke industri, pasar, dan masyarakat,” demikian pesan rektor UGM.
Melalui rangkaian kegiatan dan capaian kolaborasinya, GIFTS 2026 diharapkan menjadi pijakan bagi penguatan kemitraan yang berkelanjutan, sehingga hasil riset perguruan tinggi semakin dekat dengan kebutuhan industri dan mampu memberikan manfaat lebih luas bagi Indonesia.
