Dua mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), Perdana Mangayu Bagyo dan Muhamad Ilham Ryan Kusuma, founder dan co-founder Startup Global Tani Solution. Keduanya berhasil tembus TOP 3 Pertamuda Seed and Scale 2025 dari kategori Early Stage Startup
SOLO, solotrust.com - Perdana Mangayu Bagyo dan rekannya Muhamad Ilham Ryan Kusuma, dua mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) berhasil menghadirkan inovasi alat pemupukan semiotomatis untuk para petani di Indonesia yang diberi nama Global Tani Solution.
Di balik kreasi Global Tani Solution tersimpan sebuah kisah inspiratif salah satu founder-nya, Perdana Mangayu Bagyo yang berasal dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Ia terlahir dari keluarga sederhana. Sejak kecil, Perdana Mangayu Bagyo hanya tinggal bersama sang nenek, sosok yang membesarkannya dengan penuh kasih dalam keterbatasan.
Ayahnya bekerja sebagai pedagang bakso keliling, sementara ibunya adalah asisten rumah tangga. Kondisi ini membentuk karakter Perdana Mangayu Bagyo menjadi seorang pekerja keras, rendah hati, dan terbiasa menghadapi tantangan hidup sejak usia muda.
"Saya tinggal di Sukoharjo bersama nenek, ayah, dan ibu ikut dengan majikannya. Ayah jualan bakso, sedangkan ibu mengurus anak-anak majikan," kata Perdana Mangayu Bagyo, Rabu (19/11/2025).
Kendati berasal dari latar belakang keluarga serba kekurangan, nyatanya tak menjadi alasan bagi Perdana Mangayu Bagyo untuk bermimpi besar. Ia tekun meniti pendidikan dari sekolah dasar hingga kuliah. Ketekunan itu kini terbayar melalui inovasi yang ia persembahkan untuk para petani, masyarakat yang kehidupannya sangat akrab dengan perjalanan hidup Perdana.
Gagasan mencetuskan Global Tani Solution muncul dari kegelisahan Perdana Mangayu Bagyo dan Muhamad Ilham Ryan Kusuma saat melihat kondisi petani di sekitar mereka yang melakukan pemupukan tanaman tanpa parameter pasti, tanpa perhitungan dosis jelas, dan sering kali hanya ditabur di permukaan tanah.
Kondisi ini mengakibatkan biaya pengadaan pupuk semakin meningkat, efisiensi pemupukan menurun, dan paling parah adalah pencemaran lingkungan dari residu pupuk kimia berlebihan.
“Selama ini petani melakukan pemupukan hanya di atas tanah. Mereka juga tidak punya analisis berapa dosis pupuk yang tepat, jadinya biaya semakin mahal karena tidak efisien. Oleh karena itu, kami membuat alat pemupukan yang lebih efisien di mana pupuk bisa langsung masuk ke dalam tanah agar bisa diserap tanaman dengan lebih optimal,” papar Perdana Mangayu Bagyo.
Bagi mereka, inovasi ini bukan hanya soal teknologi, namun tentang keadilan. Petani berhak mendapatkan cara kerja lebih mudah dan hasil panen lebih baik tanpa biaya membengkak.
Sebagai alat pemupukan semiotomatis, Global Tani Solution hadir dengan tiga produk utama. Pertama, alat pemupukan manual dengan mekanisme pegas, dirancang untuk mempermudah proses pemupukan. Pengoperasiannya dilakukan secara manual dengan tenaga manusia.
Produk kedua, alat pemupukan dengan memanfaatkan motor penggerak. Alat ini tidak membutuhkan banyak tenaga manusia dan cocok digunakan untuk lahan lebih luas.
Ketiga, alat pemupukan sudah dilengkapi software (aplikasi) analitik pemupukan, memungkinkan petani bisa mengetahui dosis pupuk yang tepat sesuai kondisi tanaman dan juga tanah.
Dengan sistem ini, pemupukan tak lagi sekadar ‘kira-kira’, namun berbasis data dan lebih ramah lingkungan. Para petani hanya perlu memasukkan nama dan umur tanaman ke dalam aplikasi kemudian akan keluar secara otomatis informasi mengenai kebutuhan pupuk dan cara pemupukan tanaman.
Melalui hasil kreasinya, Perdana Mangayu Bagyo kini menjadi salah satu contoh nyata inovasi besar bisa lahir dari perjalanan hidup sederhana. Dari rumah nenek di Sukoharjo, dari keluarga bekerja keras demi hidup layak, kini ia berdiri membawa solusi yang dapat membantu ribuan petani di Indonesia.
Di Pertamuda Seed and Scale 2025, Global Tani Solution sukses menorehkan prestasi sebagai salah satu pemenang TOP 3 dari kategori Early Stage Startup. Global Tani Solution bukan hanya teknologi, ini adalah cerita tentang harapan, keberanian, dan tekad untuk membangun masa depan pertanian lebih efisien, ramah lingkungan, dan inklusif. (add)
